Sabtu, 09 Agustus 2025

Post-Doctoral Pertama Kali

 Dr. Andy at Shenzhen, Guandong, China

"Kapan lagi kutulis lagi untukmu? Tulisan-tulisan indahku yang dulu, pernah warnai dunia, puisi terindahku hanya untuk mu!" Lagu ini mengingatkanku tentang Nada Nadiya dimana lembaran cerita tentang jalan sebagai seorang berpendidikan terlukis di kepalaku. Dengan semangat, selalu kau katakan untuk bangkit, sebagaimana intro lagu ini "aku yang pernah...Engkau kuatkan, aku yang pernah kau bangkitkan, aku yang pernah kau beri rasa." hingga aku terus mengingatmu Nadiya. 謝謝你.

Shenzhen, Aku injakan kaki ku disini dan menuliskan kembali di Blog ini. Mengingatmu dan membagi cerita ini untuk mu dan juga IBUKu di Surga. Ini pertama kali, aku mengambil postdoctoral program karena harus menyesuaikan kondisi kantor dan aturan yang tidak membolehkan aku untuk meninggalkan kantor sampai 1 tahun. Akhirnya ada peluang ini, Aku sekarang disini berkat doa Ibuku, kamu, Vita yang pernah singgah sebentar dalam hidupku dan tak Lepas dari dukungan penuh Istriku Komala-AKA-Bunda Ala (supporter, teman sejiwa, dan teman nanti di surga. Aammiiinn).

Hari ini, aku sendiri tidak menyangka akan sampai di negeri Tirai Bambu ini. Sejarah mencatatkan hal yang luar biasa di negara ini, negara dengan paham 'Komunis'. Faktanya sekarang menjadi negara maju, yang awalnya sempat terjadi perang antar kelompok sampai akhirnya didamaikan dengan satu partai, dimana pemenang menjaga wibawa dengan sebutan One China Policy. Dimana Taiwan, yang pernah aku singgah disana, disetarakan dengan provinsi atau bagian dari China-Mainland.

Luar biasanya kemajuan di sini, yang awalnya aku agak shock dengan internet yang tidak bisa dipakai untuk akses berbagai macam situs yang terkenal, ternyata memiliki Power yang luar biasa untuk mengatur negara yang luas, dengan penduduk lebih dari 1 milyar ini. Bahkan hal yang mencengangkan adalah para Professor yang ada di SIAT ternyata memiliki rekam jejak yang tidak biasa. Dari sisi Kualitas tidak kaleng-kaleng. Sistem Non-Koruptor benar-benar memberikan kehati-hatian dan kenyamanan tersendiri bagi rakyatnya. Berbeda dengan Negeri Konoha dimana korupsi sudah jadi bagian dari sistem global di negeri tersebut.

Apakah negara ku akan mampu menyainginya? Entahlah tidak ada yang tahu nantinya. Untuk Nadiya, Vita, dan Bunda Ala Kalian adalah pendoa untukku yang di Ijabah oleh الله SWT. Semoga kita bisa bertemu semua di surga, untuk Istriku Bunda Ala, Terima Kasih sebanyak-banyaknya, Kau adalah pasangan hidupku yang tepat di dunia ini.

Senin, 29 Juli 2024

PhD-Doctoral

 Ph.D - Doctoral, Dr. Andy

Ibu, Alhamdulillah, aku - anakmu telah tamat mencapai pendidikan paling tertinggi. Sejak kecil hal yang tak mungkin bagi orang yang Fakir - lagi - Miskin adalah menyekolahkan anak sampai tinggi. Bagiku yang sudah terbiasa hidup susah dan diolok-olok oleh tetangga sebelah yang namanya Bu Tomi, yang selalu terngiang dibenakku. Sejak kelas 3 SD aku menyadari bahwa benar perkataan Bu Tomi, bahwa Bapak orang Miskin, yang makan aja susah, apalagi menyekolahkan anak yang dia kutuk ini, pastilah hal yang sangat tidak mungkin. Sementara untuk bisa masuk SD saja aku terlambat masuk karena 4 saudara ku yang lain membutuhkan biaya untuk masuk sekolah tinggi, SMA, dan SMP. Seolah tersadar bahwa aku tak mungkin punya harapan bisa sekolah tinggi, maka dengan tekad yang ada aku mulai berusaha mengais rejeki dan berusaha tidak menjadi bebanmu.

Sakit rasanya, setiap kali mendengarkan cemoohan tetangga, yang membuat aku minder, tetapi aku  tetap berusaha menegakkan kepalaku. Tersadar dari mimpi yang tak mungkin ku raih, aku berusaha mewujudkan mimpi itu menjadi jalan cita-citaku. Berbenah diri di usia dini akhirnya kelas 3 SD aku berusaha mati-matian mengejar prestasi agar dapat beasiswa dan bisa lanjut sekolah. Dari 3 hal ini aku percaya bahwa aku bisa mewujudkanya, yaitu beasiwa jalur prestasi, surat keterangan tidak mampu dan mencari keringanan dari sekolah. Mulai dari sana, akhirnya aku yakin bahwa cita-cita itu bisa diwujudkan.

Bekal yang selalu kau tanamkan padaku, Becik ketitik ala ketara, Mesio cilik tetep wae padha, Dadi wong cilik kudu waspada lan ati-ati, Le kowe lanang Jangkamu ki dawa, Urip ngirit - ngepas no kebutuhan, Sing sabar ngadepi Urip. Banyak hal yang terngiang di kepalaku termasuk harus berani menghadapi dan menggapai kesusksesan. Demi permintaan Ibu yang mengharapkan salah satu anaknya ada yang bisa sekolah tinggi dan termasuk untuk menghapus kutukan yang di-semat-kan Bapak sepertinya ini akan menjadi jalan yang panjang.

Aku doakan Ibu selalu diterima oleh الله SWT. dan ditepatkan di surgaNYA. Maafkan anakmu ini ya Bu kalau sudah sering menyusahkan Ibu, semoga Ilmu yang anakmu ini peroleh bisa bermanfaat dan menaikkan derajat, supaya keturunan berikutnya tidak perlu mengalami kondisi Fakir dan Miskin, menjadi Kaya yang kekayaannya menjadi berkah bagi keluarga dan orang-orang lainnya. Love You الله وراسل الله, Love You Bu, Love You Bunda Ala, and Love You my son's.

Kamis, 02 Februari 2023

Nada Nadia (Bersepeda)

      Hujan mulai reda, Kau bertanya apakah aku bisa mengantarmu pulang dengan sepeda jengki ku? aku jawab iya bisa, hanya mungkin keras karena jok untuk bonceng tidak ada bantalannya. Kau menjawab tak mengapa dan bersikap lemah lembut dengan santun. Akhirnya, aku bonceng kamu dan mengantarmu pulang ke rumahmu.

       Sepeda jengki ku menjadi saksi bahwa kita pernah bersama di sepeda itu, sambil kau ajak bercanda dalam perjalanan itu. 

Nada Nadia (Intro)

      Nada, telah berlalu puluhan tahun dari masa kita bertemu waktu SMP. SMP salah satu sekolah terfavorit di kota kita tinggal. Hanya aku berjuang untuk masuk kesana, walaupun ternyata masih banyak kekurangan yang tidak aku ketahui untuk menjadi salah satu pelajar disana. Kekurangan sebab kemiskinan menyebabkan sekolah disana menjadi sangat mahal, bahkan untuk bertahan disana aku harus berjualan dan berdagang asongan untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Sampai waktu aku pernah tidak makan hanya untuk mengumpulkan uang untuk membayar LKS salah satu pelajaran di Sekolah.

       SMP Pawyatan Daha adalah sekolah mu, dekat dengan latar alun-alun kota kita tinggal. Saat itu kau sedang ada di depan Gerbang sekolah sendirian tampak letih menunggu jemputan yang belum datang. Kala itu hujan rintik, aku memutuskan tetap pulang dari sekolahku, sepeda jengki hitamku aku kayuh sekalipun berat karena melawan arus angin. Kuanggap hujan rintik adalah sahabatku sebagai kemudahan untuk melewati jalan raya, yang biasa penuh kendaraan bisa lumayan sepi ditinggal para pengendara kendaraan bermotor. Aku putuskan untuk berbelok ke arah alun-alun menuju ke arah sekolahmu. Tepat berbelok hujan disertai angin kencang dan cenderung bertambah intensitas turunnya hujan memaksaku berteduh. Kuputuskan menepikan sepeda jengkiku tepat depan gerbang sekolahmu karena ada atap depan gerbang sekolahmu, sayang aku tak berani masuk. Sambil menyandarkan tubuhku ke tepi tiang gerbang, tak kusadari ada salah satu murid disana dan itu kamu.

      Cukup lama kau memperhatikan ku dan melihat topi sekolahku dengan tulisan SMPN 1 kota kita bertemu. Lalu dari sebrang tepi tiang gerbang lainnya kau menyapaku, "Hi, apakah kau murid SMPN 1?" kata salam perkenalan yang terdengar indah dan lembut. Tak pelak suara itu mengejutkanku, "Oh iya" Jawabku. Senyummu membangkitkan kesadaranku untuk memperkenalkan diriku dan siapa aku kepada wanita yang keturunan tionghoa. Tampak bersih dan putih kulitmu terawat.

 

Kamis, 22 Desember 2022

Satu Sisi Satu Malam

 "Bruukkk" suara benda jatuh disampingku tampak berisi barang yang berat. "Maaf mbak, apakah boleh saya bantu?" kataku menawarkan bantuan. "Boleh...boleh!" katanya, "Lumayan berat mbak, mau kemana?" tanyaku, "Keseberang mas"Jawabnya.  Seolah malam menutup jauh usiaku dengan wanita muda ini. "Apakah baru sampai mbak?" lanjut tanyaku sambil membawa koper miliknya, sambil mengangkatnya menyebrangi jalan. Sambil memegang telpon genggam miliknya dan membalas pesan yang masuk dia berkata "iya". 

"Yups, sudah sampai mbak!" kataku, "eh mas boleh minta tolong sampai apartemen saya disana" tanyanya pada ku. "Boleh mbak, tapi apa boleh saya masuk ke Apartemennya mbak?" tanyaku. "Nanti sampai lobi bawah ada teman saya, tolong temani dulu ya mas!" Pintanya padaku. Belum sampai ke Lobi kami berhenti karena tidak tahu lobi yang mana yang kami harus menunggu. Lalu, sambil menunggu balasan pesan dari temannya, aku bertanya "Datang ke ibukota, memang asalnya darimana mbak, dan keperluan kerja atau berkunjung saja", tanya ku, tanpa ragu dia pun menjawab dengan singkat "Kerja Mas, dari Tasik kuningan", 

"Wah lumayan jauh ya?! Apa tidak ada laki-laki yang mengantar?" sahutku. "Tidak ada, memang kenapa mas, biasanya saya juga sendirian" jawabnya. "Hebat mbak, sampai malam begini, memang kerja dimana mbak, kalau boleh tahu?" tanyaku. "Disini mas, sama teman saya" [w],"Hmm...ikut temannya ya, semacam bagi hasil ya?!"[a]. "Hayyu mas, kesana, yang warna merah, lobi bawah sudah ada teman saya nuggu"[w], "baik mbak"[a]. 

Akhirnya kami sampai di lobi tersebut dan bertemu dengan temannya. "Ri" panggil wanita itu [w2]  ke wanita yang kubantu[w]. "Wah...wah...sudah bawa pelanggan ri"[w2], dak-dak-dak kaget aku mendengarnya, "maaf maksudnya apa ya?!", aku syok mendengar suara sambutan tadi. "Loh emang mas ini siapa?"[w2], "mas ini tadi cuma bantu ta"[w], "ooww... ku pikir pelanggan kecanthol, ha ha ha"[w2]."Mas, terima kasih ya, mau mampir dulu atau langsung pulang?"[w] "Langsung pulang saja mbak" aku langsung balik badan dan pergi dari lobi tersebut. "Mas besok saya tunggu ya disini, kalau mau ngobrol"[w2]. Dalam hati "Gila", aku putar badan, segera jalan cepat meninggalkan dari tempat tersebut tanpa membalas pertanyaannya.

Senin, 23 Mei 2022

L-A-R-I

 LARI

        Asa berpedar dalam hatiku. Entah sudah berapa lama ini terjadi. Segala keluguan kecilku terluka karena salah😠 - yang membawa kutukan seumur hidupku. Sebuah ejekan yang tak pernah berhenti bahkan diviralkan sampai dikalangan teman-temanku. Sakit - tapi tak bisa kuhindari dan tak pernah bisa ku rubah.

        Aku LARI sejadi- jadinya. Namun sakitku tak jua hilang. Musim berganti kutukan itu masih terasa karena dendam😠 - yang membawa pikiranku selalu beranggapan tidak ada tempat untuk ku berlari. Sungguh aku bingung IBU. Bagaimana seharusnya aku, apakah benar masa lalu itu harus aku kubur tanpa harus berbalik memandangnya sedikitpun.

       Alang - alang melambai  terinjak. Bekasnya injakannya melekat dan menempel kuat. Sedangkan penginjak bebas😠 - menghina, mengolok, mengejek tanpa rasa bersalah sedikitpun dan tak pernah ada perasaan bersalah. Mereka tak sekedar teman tapi saudara Sedarah. Larut dan suka akan berdusta tapi merasa paling benar adanya. Entah sampai kapan?

        Benci akan ingatan, menusuk dan membuat  teriakkan kencang. Dalam hati sakit itu tak terbiasa ku jadikan biasa😢 - berharap aku bisa memaafkan diriku dan masa lalu ku. Kemarin ada kawan yang memanggilku dengan nama kutukan itu, dia meminta ijin untuk memasukkan aku sebagai anggota grup kawan lama. Sungguh aku menolaknya karena mereka bagian dari Kutukan masa lalu. Aku hanya manusia biasa, dan tak ingin hidup dalam kutukan itu.

        Bebas menapak dunia  baru. Harapan itu selalu aku tumbuhkan, walau menyesakkan dada, terkadang masih terasa sakit dan kecewa😊 - tapi aku berusaha tersenyum untuk kekasihku dan buah hatiku. Pilu kupendam dan kutuliskan saja. Meski ini bukan obatnya, semoga aku tetap ikhlas menjalaninya dengan Damai - Diam Ku.

Kamis, 05 Mei 2022

Men-Jeda Namamu, Dara -- Annisa.

 Dara Annisa (2)

Lima tahun berlalu dari waktu meninggalnya suamimu. Apakah kau tahu aku mencari kesempatan untuk bertemu denganmu?

Hidup terasa janggal, waktu bergulir menakutkanku, aku masih saja kalah dengan sosok yang sudah pergi, Apa kau melihat dan mendengar tangis kehilangan dari mu?

Kau membuat ku terjatuh dan terjatuh lagi, Kau membuat ku terjatuh dan terjatuh lagi, kau buat ku merasakan yang tak terjadi, semua yang terbaik dan yang terlewati, semua yang terhenti tanpa ku akhiri.

Kau hancurkan hati ku - kau terangi hatiku kau redupkan lagi.

Aku bermimpi sekali lagi di bulan Ramadhan setelahnya, aku melihat sosok mu yang sedang menangis, tapi kau tak memanggilku, justru memalingkan muka mu menjauh dariku. Sakit rasanya kau pergi sekali lagi.

Dara, bulan Ramadhan ke-3 kali ini aku tak ingin bermimpi tentang mu tapi entah kenapa masih saja sempat bermimpi tentangmu. Hanya kali ini, begitu jelas apa yang kau kerjakan.

Kau meminta ku untuk menjagamu, tapi kau khianati dengan tusukan pisau yang menembus ke ulu hatiku sehingga aku terjatuh dan mati di tanganmu. Kuharap ini adalah mimpi terakhir ku tentang mu Dara.

Sungguh aku tak sanggup lagi walau sekedar mimpi Dara! Pergilah Dara Annisa..... Temukan apa yang kau cari tanpa mengusik hidupku lagi. Karena kau hancurkan Hatiku Untuk Melihatmu.

Ku Katakan Dengan Indah -- Halimatus Sa'adah

Ku Katakan Dengan Indah😢

Seketika ku teringat, terlintas dibenakku sosok yang pernah aku kenal dulu. Dari perjalanan hari ini, ada seorang wanita yang memiliki wajah yang mirip dengannya -- "Halimatus Sa'adah" --. Entah kenapa pikirianku kembali ke masa sekolah menengah pertama.

Sederet bayangan masa lalu, membawa ingatanku tentang dia. Dia berjalan dari sekolah untuk sampai ke rumah di sore itu. Dan aku baru sadar dulu kami pernah satu taman kanak-kanak dan menjadi teman tatkala itu. Sosok sederhana yang luar biasa, giat belajar untuk menggapai mimpi sampai sadar mimpi itu terlalu jauh untuk seorang gadis miskin seperti dia.

Simpan tersimpan perasaan waktu itu, hal yang menakutkan untuk aku ungkapkan karena keadaan yang sama di sisiku seperti dia. Aku takut dengan cinta -- hampa, luka, dan derita -- tidak ada hal baik didalamnya karena cinta bukan untuk orang miskin, kata seseorang kepadaku. Sampai aku pendam rasa itu, hingga hari ini.

Dia pernah berjalan sepanjang 7 km agar dapat sekolah di sebuah sekolah favorit di kota kami. Kalau saja aku sanggup menjaganya - "Hari ini aku mampu menjagamu" - saat itu. Tentu kau sudah bersamaku, aku sadar mimpimu untuk menjadi seorang dokter harus terhenti sebelum kau akhiri perjuanganmu untuk meraihnya. Redup terseka nasib yang luar biasa menekan keinginanmu, sampai terakhir kali ku lihat kau menjadi seorang SPG - rokok dengan terpaksa untuk menyambung hidup sekalipun nilai-nilai lulus ijasahmu tersusun angka rapi yang mungkin tak pernah ku temukan di rapot pemalas.

Hatiku teringat-terngiang tentang mu dengan rasa sakit dan pilu. Aku ingin mencari mu sekali lagi walau tak mungkin dan mengatakan apa yang harus ku katakan pada mu bila bertemu. -- "Aku ingin menjadi Penjagamu!" -- Meski aku tak tahu bagaimana nantinya, semoga kau selalu sehat dan bisa mewujudkan cita-citamu, mungkin bukan di masa mu...😢

Kamis, 28 April 2022

Hi PSK! Apa salahku?

 Hi PSK! Apa salahku?

Pelangi dilangit malam, cahaya berpedar di tengah bulan purnama. Terlintas sebuah peristiwa yang mengganggu pikiranku. Sosok wanita yang bergumul ria di sebuah apartemen kelas atas. Mereka berada seolah tiada kesan di sebuah kota ternama. 

Akses menuju tempat itu tak mudah, diantara mereka menggunakan aplikasi kekinian untuk menggait pelanggan. Laki-laki yang kesepian adalah bonus bagi mereka. Terkadang pula mereka kecewa karena sang pelanggan berbelang hidung hanya chat tanpa kehadiran. Mereka bukan murahan dan tak ingin dianggap murahan, yang mereka inginkan hanya bertahan hidup demi alasan mendapatkan kelayakan.

Laki-laki yang datang tak pelak dari berbagai golongan, hanya tak lepas dari itu tampaklah pemuda umur 20-an keluar dari lift diantar dua wanita yang menemaninya. Tampak salam hangat mengantarkan laki-laki itu. Ada laki-laki lain yang keluar tanpa diantar oleh seorang wanita, tampak lusuh dan muram muka. Sebelumnya laki-laki paruh baya ini dijemput oleh seorang wanita yang menemeninya masuk ke lift. Entah kenapa keluar dengan cara yang berbeda dengan laki-laki yang masih muda.

Kamar penyaji memiliki tipe yang berbeda, semakin bagus tipe kamarnya semakin berkelas dan semakin mahal harganya. Ada pelanggan juga yang berhasil menawar sesuai dengan kemampuannya, Sayangnya bak harga dan pelayanan memiliki rating dan cara yang berbeda. Sempat ada laki-laki yang benar-benar kecewa dan mengeluhkan ke satpam penjaga kalau teman wanitanya bejat dan sebagainya lalu pergi dari lokasi tersebut.

Layanan ST-dengan 1xcrot menjadi langganan yang murah dan mudah didapat, dengan waktu yang juga tak banyak. Ada cerita dari satu pelanggan yang kecewa setelah kunjungan ke-4 nya, karena wanita yang ke-4 mengabaikannya dan meminta uang pembatalannya sampai 50%. Tak dinyana wanita ke-4 ini tidak sesuai dengan foto pada aplikasinya dan layanan yang diberikan sama sekali tidak memuaskan pelanggan tersebut, sampai pelanggan itu mengumpat dan mengutuk PSK itu.

Suatu peristiwa, bahwa penjaja cinta sering mengecewakan pelanggan dengan memberikan foto palsu dan lain sebagainya. Tujuannya agar calon pelanggan cinta mau datang ke lokasi, setelahnya terserah mereka ingin diapakan pelanggan tersebut. Cinta mungkin tak ada, hanya pemenuhan hasrat karena kebutuhan membuat pelanggan ini datang dan meminta PSK untuk melayaninya.

"Hi wanita jalang!, kamu nipu Ya!" teriak keras dari laki-laki yang tak puas diperlakukan salah satu PSK membuat penghuni 1 lantai kamar itu keluar dan melihat apa yang terjadi. Ya, apartemen, hotel, bisa menjadi lokasi yang memungkinkan di era digital / gadget berkembang menggila.

Sabtu, 15 Mei 2021

Namaku bukan Udin!

 Namaku bukan Udin!

"Bangsat nang endi bocah kuwi!", Teriakkan itu begitu kencang dan membuat takut buluh kidik ku. "Wis bakar omahku, Jancuk kon Diiiinnn!"... Serasa keras terdengar saudaraku ingin membunuhku. Sejak itu namaku Udin dan sebelum usiaku menginjak 4 tahun. Aku hanya menangis ketakutan seluruh warga dan saudaraku termasuk Bapakku mengecamku untuk mati saja. Hanya seorang ibu yang membelaku dan berusaha melindungiku. 

Kala itu masih puasa awal Ramadhan 1407, aku belum tahu arti puasa, hanya tahu kalau melihat sesuatu aku ingin mencobanya. Sampai hari ini aku tak bisa menghapus dari ingatanku dan tak bisa mengubah hukum moral untuk seorang anak yang belum genap usia 4 tahun harus mendapatkan sanksi keras dengan label Udin yang bukan namanya, dikenal si pembakar rumah Udin.

Kadang aku merasa kesal kenapa harus punya orang tua dan saudara yang selamanya terus mendustakan tindak pidana mereka pada seorang anak kecil. Apakah Adil? Peristiwa itu dijadikan hukuman seumur hidupku dengan label dan cap yang buruk, sampai-sampai nama itu berkibar se-antero jagad, semua teman yang ada di kota itu dari semenjak sd, smp, dan sma bahkan ketika bertemu di usia senja ku mereka tetap dengan label yang sama "Udin Bakar Rumah" di singkat Udin. Darisanalah asal nama itu bermula.

Aku marah, benci dan mengecam balik siapapun yang memanggilku dengan nama itu! ITU BUKAN NAMAKU, SEKALI LAGI ITU BUKAN NAMA KU

JANCUK KANGGO SAPA WAE SING NYELUK AKU UDIN

Sabtu, 23 Januari 2021

Mengeja Namamu, Dara Annisa

Dara Annisa (1)
Waktu bergulir dan berlalu begitu cepat, masa bertemu sangatlah singkat, tak terasa akhirnya berpisah denganmu. Jalan yang kian ramai menjadi saksi bahwa aku pernah bersamamu. Walaupun sekedar teman yang sangat tak berarti apapun untukmu.
Setiap permulaan selalu menuntun perpisahan. Aku hanya bisa mengenang sekalipun masa telah bergulir begitu cepat. Aku tak berdaya dan sadar akan berpisah denganmu dan harus sadar takkan penah berjumpa dengan kembali. Seolah keheningan malam menjawab pertanyaanku.
"Ndi, aku akan melanjutkan studi ku di tempat yang jauh!" serasa baru kemarin kau ucapkan perpisahan dan kau nyatakan bahwa kita hanya akan menjadi teman dan kenangan. Setiap belokkan jalan yang pernah kita lalui sekarang bisa aku lihat di google.map dan hanya itu yang tersisa.
20 Tahun lebih telah berlalu. Aku sadar begitu kau membenciku, ketika itu. Aku berharap kini kau melupakannya dan memaafkanku. Kabar terakhir, sayup-sayup ku dengar kau menyandang status Janda karena ditinggal dahulu oleh suamimu.
Takdir tak pernah menyenangkan aku hanya bisa mengikuti goresan cerita mu, Tatkala mendiang suami baru saja meninggal beberapa bulan. Goresan tinta hitam yang menyayat tak pelak membuat hati ku pada mendiang suamimu. Ya, aku kalah telak dari segiapapun dari suamimu.
"Ah, biarlah semua berlalu!" Tantangan takdir dan nasib seolah membuat ku terus melaju untuk melanjutkan hidupku. Pernah suatu kali puasa Ramadhan aku bermimpi tentangmu. Tampak wajah yang sedih dari seorang ibu melihat anaknya. Aku tak tahu kalau kau memiliki seorang anak dari hasil pernikahanmu. Tepat setelah aku melihat catatan sebuah twitter aku membaca apa yang telah kau tinggalkan dengan catatan seorang ibu dengan anak usia 3 tahun. Tak kusangka engkau begitu kerasnya memilih membesarkan seorang diri anakmu.
Aku adalah teman dan kenangan yang selalu ada dalam lintas waktu yang sama, tapi berbeda ruang dan tempat. Semoga kau bahagia Dara.

Kamis, 25 Juni 2020

Jika Aku Tertawamu

Bumi kecilku, terletak di timur pulau pangeran Diponegoro pernah berjuang, sementara dia berada di barat. Aku terlahir dahulu dan aku tak tahu tentang dia. Dia menjadi sosok paling anggun yang menerima kebodohan, kepolosan dan kemalanganku.

Sore itu menjelang senja ku tatap dan ku sapa dia. Senyum yang lebar ku tampakkan dengan penuh percaya. Roda dua dengan pedalnya, sedikit ku lambatkan, aku menoleh melihat kacamatanya dan sambutan hangat wajahnya yang tampak letih setelah berjalan. 

Tinggal di kota dan gang sempit, tetap membuat sudut indah dipipinya. Senantiasa hadir dan keceriaan, jika aku berjumpa di jalan. Ku rapatkan niatku dan kusampaikan ke Penciptaku, ijinkanlah Ya اللّٰه. 

Selang waktu berganti, ku tegaskan niatku. Akhirnya ada jalan untuk bertemu menyampaikan khitbahku. Seminggu menjawab tanda tanya dari pikiranku, IYA. Sambil menghela nafasku, aku ucapkan syukur sedalam-dalamnya setelah dua puluh sembilan khitbah ku tertolak dan ditolak.

Tak lama, aku menjemputnya dengan cincin sebagai maharnya. Kupinang dia di depan penghulu, ku panjatkan doa terbaik agar teriring perjalanan yang indah bersamanya kelak.

Hantaman badai, terpaan topan, jeritan Sunami, getaran tanah, gelimang wajah, tak memudarkannya untuk selalu menemaniku. Ijinkan aku membuatmu tertawa, karena aku tertawamu yang paling indah baik di dunia dan akhirat kelak SayanK.

Lentera yang Terang Redup

Beranda kehidupan mengesampingkan paruhnya harta, tatkala hidup sakit menanggung lara. Kosakata indah hanya ada dalam cerita, tapi tidak untuk hidup ku. Goresan belati tetangga mungkin tak pernah disadari bekasnya. Walaupun tertutup tampaklah berbeda. Mulut yang bau bukan mulut yang dipenuhi dengan makanan yang menyebabkan, tetapi diisi hujatan dan makian, karena baunya bisa melekat dan mendarah daging hingga hari tua.

Sebagian sisa mereka buang dan tumpah dalam tong yang lekat dengan bau. Dari tanganku ku angkat perlahan memposisikan sesuai keseimbangan, dua roda penanggung beban. Rodanya terbuat dari karet keras yang diselipkan dengan rangka besi yang dipenuhi cat. Bagian depan yang dulu kemudi berubah menjadi pipa yang memanjang. Setelah tepat seimbang barulah aku dorong dengan sekuat tenaga, tanpa masker penutup hidung, aku hanya mampu hembuskan nafas dan menariknya sesekali. Baunya yang semakin menusuk membuatku medorongnya lebih kuat. Supaya sampai tujuan pembuangan akhirnya, disitulah aku bertahan hidup, demi sesuap nasi dan uang sekolah.

Proletar, hasutnya orang yang tinggal disebelah rumah sewa kami. Terusir, seolah menjadi bagian cerita yang berulang. Hanya kesadaran yang membuatku bangkit dan menerimanya, berusaha menjadikan batu semangat untuk bekalku nanti.

Sisa uang dari laki-laki pemangku kehidupan kami, cukup untuk menerangkan beberapa hari listrik tetanggaku. Selepasnya aku dan sanakku menahan rasa kuat perut peminta. Hanya usapan perlahan yang mengganjalnya.

Mimpiku haruslah lebih terang sekalipun redup tangan pembawa semangat. Carilah dan jangan menyerah, nasihat laki-laki kecil pengendara roda delapan yang besar. Ku kayuh pedal yang ku punya untuk sebuah waktu misteri nanti.

Surut dan pasang berlalu, akhirnya ku tegakkan atap dengan pondasi yang kuat untuk keluarga kecilku.

Sebilah Senja Pisahkan Hidup dan Mati

Senandung kokok ayam memulai pagi, pesan dari penguasa alam bahwa hidup sebatas waktu. Terusik aku, karena niatku untuk bangun begitu mendengar kicau indah suara mercu suar pagi. Seolah mengabarkan sang pencatat amal akan turun dan naik bergantian. Aku menahan rasa kantuk ku, bangkit menuju air yang jernih di pagi hari.

Ku buka kran air dan ku kucurkan hasil minumku semalam, serasa tak kuat menahan. Air toilet yang jernih berubah menjadi keruh dengan warna kuning. Begitu selesai, ku tekan jalur buangnya, agar air yang jernih menyiramnya. Ku tengok ke atas kulihat langit masih menghitam pudar. Ku bersihkan badanku dan perlahan ku basuh dengan seksama bagian mukaku.

Perlahan-lahan, rasa kantuk yang kuat ku coba hikangkan dengan mengambil air dan mulai berkumur. Ku sibakkan lengan bajuku, kuambil lebih banyak air jernih itu. Ku usapkan ke muka dan menepiskan rasa kantukku yang mengendap di mataku. Ku lanjutkan dengan mengusap kedua tanganku dan membasahi kepalaku. Ku putarkan kedua tanganku ke bagian kedua telingaku secara bersamaan. Ku tutup dengan merasakan segarnya air jernih yang mengalir di kedua kakiku secara bergantian.

Sang penguasa alam, memanggil dan menyerukan di dalam kepalaku segeralah-segeralah. 4 kali sujudku menutup pagi ini dengan kesedihan yang luar biasa yang coba ku utarakan pada-Nya. Ijinkan aku kembali dengan Rahmat-Mu berkumpul dengan kedua orang tuaku, Istriku dan anak-turunku. Jiwa yang terbelah tak karuan yang diragu-ragukan lawan Hidup memekikan kalimat pergilah jangan ganggu Aku untuk bersimpuh kepada-Nya.

Kala itu, suara panggilan sangat kuat, memberi tanda perpisahan, ku tengok langit mulai menggelap. Tak terbayangkan sosok yang senantiasa memberikan arti dalam hidupku, lepas pergi, Mati memanggilnya. Setelahnya aku berharap cemas agar bisa melihat sosoknya untuk terakhir kali, tapi sayang kabar itu terlambat disampaikan....lukaku masih ternganga, jumpa mu adalah harapan sirna.

Seolah hidup berdekatan dengan kematian. Setiap waktu tidak ada yang tahu kapan waktunya. Senja kala itu memisahkan aku dengannya dan menyisakan jalan yang tak sedikit. Penciptaku, maafkan aku, buatlah aku ikhlas melepasnya.

Sabtu, 20 Juni 2020

Dinda November '96- Januari '97 bagian 2

Assalamu'alaikum 
Dinda

"Ini temanku bu" sahut Dinda, "Dia yang mengantarkan Dinda pulang. Namanya Endi dari smp 1" Sambil mengenalkan diriku ke Ibunya Dinda minta ibunya untuk mempersilahkan masuk Aku ke tumahnya. "Masuk dulu nak" Ibu Dinda menawariku. "Bu, maaf saya harus buru-buru pulang, soalnya belum makan" jawabku lugu, karena rasa lapar yang tak tertahan lagi. Karena bingung mau menolak akhirnya kuputuskan memarkir sepedaku ke halaman rumahnya. Ibu Dinda menjamu makan siang yang jarang aku dapatkan di rumah. Biasanya hidangan tempe, sayur bayam, krupuk dan nasi adalah makanan terlezat yang bisa ku santap. Kali ini menunya berbeda, "Ya, الله nikmat apalagi yang bisa kudustakan darimu" petikan ayat Al-Qur'an menggema di kepalaku "Makan, Bismillah".
Disitu Dinda tampak keheranan, telur dan ayam bumbu bali buatan ibunya yang biasa dia makan dan tak pernah habis, aku makan dengan lahap tanpa jeda untuk berbicara dengannya. Seolah sikap yang sama terjadi ketika Dinda memperhatikanku di Gerbang sekolah. Aku tidak sadar sedikitpun kalau Dinda sedang memperhatikanku dengan seksama. Setelah dia mandi dan ganti baju aku tidak sadar kalau dia sudah di meja makan menemaniku. Mungkin saking lahapnya menyantap menu yang tidak biasa membuat Dinda keheranan. Selesai aku tuntaskan makan siangku dengan porsi yang memalukan, setiap kali Ibunya Dinda lewat depan meja makan selalu menawariku untuk nambah nasinya. Dan tidak sadar aku sudah menghabiskan 2 telur ayam dan 2 potong ayam serta sayur yang harusnya untuk Dinda habis aku lahap. 
Sambil menggelengkan kepala Dinda pun bertanya "Kamu kelaparan ?", spontan ku jawab tanpa wajah berdosa "Iya, dari tadi pagi cuma sarapan roti, tadi ada ulangan, jadi bikin nafsu makanku bertambah" dengan lugu sekali aku menimpali pertanyaannya. "eh...aku boleh pulang?" tanyaku. "Tunggu dulu ya, aku selesaikan makanku, kata ibu mau ngajak ngobrol sebentar" jawab Dinda.
"Oh iya deh, aku tunggu di ruang tamu gimana ?" balasku,"jangan dulu deh, temani aku makan dulu sebentar, itu sudah dibuatkan jus buah oleh Mama" jawab Dinda.
Sambil melanjutkan minum jus buah buatan Ibu Dinda, aku lihat sekeliling dinding rumah dan perabotan yang ada. Tanpa sadar dari tadi aku tampak jadi orang yang terheran-heran dengan isi rumah Dinda, yang jauh dari rumah kontrakan kami, yang sebagian besar dikelilingi batako tanpa hiasan bahkan ada sisa bekas kebakaran. Tampak pemandangan yang jauh berbeda sama sekali dengan keadaan rumahku. 

Dinda November '96- Januari '97 bagian 1

Assalamu'alaikum 
Dinda

Aku pulang bersepeda kala itu, hujan rintik aku tetap nekat untuk pulang. Seperti biasa aku melewati jalan yang biasa aku pulang, rencananya. Namun, kali ini tak seperti biasa aku ingin lewat Jalan Dhoho yang merupakan jalan arteri, entah kenapa hati ingin melewatinya. Lurus menuju alun-alun kota, tiba-tiba hujan semakin deras. Kuputuskan berbelok mencari tempat berteduh. 
Ku tepikan sepedaku tepat gerbang masuk sebuah pintu sekolah [SMP Pawyatan Daha 2]. Setidaknya ada bagian atap gerbang yang melindungiku dari hujan kala itu. Hujan deras mulai datang, namun tak lama hujan yang deras itu lewat begitu cepat. Seketika itu hujan kembali rintik-rintik. Tak terasa sudah 21 menit aku berdiri di depan gerbang itu, karena terlalu fokus dengan tas dan baju sekolah agar tak basah oleh hujan, aku lupa memperhatikan sekelilingku.
Tatkala aku bersiap meneruskan perjalananku, ada seorang siswi smp yang sudah sedari tadi berada di sudut sebrang gerbang sekolah itu yang tampak menunggu. "Oh, maaf.." ucapku, "kamu darimana" balasnya, tampak cekungan di pipi menghiasi pipinnya menjadi penyedap pandangan.
"Aku dari smp 1, kebetulan lewat sedang hujan, jadi kuputuskan untuk berteduh dulu, aku khawatir kalau buku pelajaran sekolahku basah, namaku Endi" aku menceritakan kondisiku kala itu. "Hmm... dari smp 1 negeri kah?" dia bertanya, spontan ku balas "iya". Sekali cekungan pipi itu tampak kentara dengan jelas, sekalipun kadang aku menolehkan pandanganku pada kendaraan roda dua yang mulai ramai menghiasi jalan raya.
"Aku sedang menunggu jemputan, sudah 1 jam berlalu. belum ada yang jemput juga, sementara hanya tinggal aku siswi di kelas jadi kuputuskan menunggu di Gerbang, sejak tadi aku mengawasimu. Jarang sekali kau menoleh ke arahku, sedari tadi apakah kau tidak tahu kalau sedang ku perhatikan?" katanya.
"Benarkah?!" aku sedikit malu dan menundukkan pandanganku.
"Kamu kearah mana?" diapun bertanya.
"Aku ke arah kaliombo, biasanya motong jalan, untuk pulang." jawabku.
"Maukah kau mengantarku, maksudku memberi tumpangan?" permintaannya
"Mmm...tapi apa kau mau duduk di belakang sepeda jengkingku yang keras ini!?" tanyaku
spontan dia menjawab "Iya, ndak pa pa".
Itulah pertama kali aku bertemu dengannya. Selama mengayuh sepeda dan mengantar ke rumahnya yang searah denganku. Dia tak pernah berbicara terlalu banyak. Hanya memberikan arah rumahnya dimana. Aku sempat bertanya siapa namanya sekali saja dan dia menjawab Dinda nama panggilannya. Pertama kali seumur hidupku aku membonceng wanita dengan sesadar-sadarnya dengan Sepeda Jengki yang jauh dari ekspektasiku adalah wanita dengan wajah yang berseri indah dihiasi lesung pipit dipipinya. Tidak seperti wanita disekolahku yang sudah tentu menolak laki-laki sepertiku dengan sepeda bututku.
Selama perjalanan aku tidak terlalu banyak tanya, rumahnya di daerah Tosaren, aku belum pernah ke tempat ini sebelumnya. Disana berjajar perumahan yang asing bagi orang yang tinggal di pesisir kota kecil sepertiku. Sedikit terheran aku memandang tempat tinggalnya, karena mungkin dia anak orang mampu dari kelas menengah ke atas.
Setibanya, di gerbang pintu depan rumahnya tampak wanita setengah baya datang menghampiri kami. "Dinda..., kamu tidak pa pa nak?, maaf ibu sudah mencoba telepon ke sekolahmu tapi tidak ada yang angkat" kata ibunya. Ternyata wanita itu adalah Ibu Dinda yang sedari tadi bingung, karena Ayah Dinda tiba-tiba tidak bisa menjemput dikarenakan mengikuti rapat terbatas. Hanya orang mampu saja yang bisa berlangganan telepon dering kala itu. Keluargaku  tentu tidak akan kuat kalau harus bayar biaya berlangganan atau abonemen tiap bulannya, penghasilan ayahku hanya cukup untuk makan, biaya sekolahku sendiri di topang oleh jaring pengaman sosial dan beasiswa prestasi bagi anak tak mampu, jauh dari kesan mewah dan arogan sekolahku.

Minggu, 18 Agustus 2019

Kesukesan membutuhkan Keberanian untuk menjalani langkah-langkah sukses

Ingin Sukses, Maka Beranilah!

Slogan "Kesuksesan butuh Keberanian" adalah benar dan harus.

Tidaklah mudah mengambil langkah dan keputusan untuk sebuah cita-cita. Perjalanan yang berliku, seringkali melemahkan tekad dan keinginan untuk meraihnya. Tidaklah sedikit kegagalan dan rintangan akan kita hadapi. Konsistensi terhadap apa yang kita cita-citakan? sangat diperlukan sampai kita meraihnya,

Cita-cita wajib dan harus selaras dengan kehendak الله SWT. Berikan dasar dan tujuan hanya dan karena الله. Asa dan harapan akan muncul kembali bila cita-cita kita mulya karena الله. Dunia akan terasa ringan kita lewati jika kita bersama-NYA. 

Jangan pernah gentar untuk menghadapi Ujian-kesuksesan. Sebagian besar orang akan memilih berpaling dan melupakan cita-citanya, karena cita-citanya hanya sebatas dunia dan duniawi saja. Diantara mereka lebih menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Sehingga begitu mendapatkan rintangan yang begitu hebat mereka memilih pergi daripada meneruskan.

Proses dalam memperoleh cita-cita yang pada jiwa sebagian orang selalu klimaks dengan mengatakan "Ya Sudahlah" adalah kesalahan besar selama mereka masih hidup. Hidup berarti kesempatan, kesempatan untuk meraihnya bukan meninggalkannya. Maka ikat terus cita-cita Luhurmu dalam sanubari, tekad bulat, keberanian, sikap pantang menyerah, dan Ikhlas dalam kesabaran menerima segala jalan yang dikehendaki-Nya.

Keberanian bagian dari kesuksesan, maka beranilah dengan sepenuh hati. Jangan lupakan الله SWT. dalam setiap Langkahmu.....semoga sukses.

Jumat, 14 Juni 2019

3 hari jelang summer vacation

prepare your heart

Keluarga membawa makna; makna kehadiran dan saling membutuhkan. Ketika di negeri ini, tak ada seorangpun yang mengerti, saat itulah pendamping hidup menjadi paling mengerti. Aku membutuhkanmu begitu pula sebaliknya. Rindu yang lama, jangan sampai rusak oleh dahsyatnya gangguan-gangguan syaithon yang berusaha mengendalikan nafsu yang disebutkan 88 kali dalam Al-Qur'an.

Pertemuan harusnya menjadi hal yang terbaik, bukan untuk sekedar  melepaskan rindu. Tapi bermakna berbagi kasih sayang, mengungkapkan kegudahan dan mengobatinya. Sayangnya kalau hati diikuti hawa nafsu, maka makna kasih yang berarti memberi bisa disalahgunakan oleh syaithon melalui ekspetasi yang tinggi. Jangan, sekali lagi jangan!, sesungguhnya langkah syaithon itu jenius, licik dan tak tanggung-tanggung kalau ingin merusak dan menjerumus manusia ke api neraka.

Santunnya sunnah Rasulullah SAW, adalah memberi kabar yang akan dikunjungi. Bukan berharap pada sesuatu hal, baik itu tempat, keadaan tertentu dan atau sesuatu yang harus terpenuhi. Tapi lebih pada janji akan pembalasan yang lebih baih dari silahturahim. Menjaga hati agar tidak terlalu memiliki prasangka yang berlebihan adalah dengan sabar dan syukur. Semoga ketika kami bertemu senantiasa Malaikat-malaikat (disebutkan 88 kali dalam  Al-Qur'an)  الله berkumpul mendoakan kehadiran yang menghadirkan kebarokahan dan kebaikan selama saya berkumpul dengan keluarga.

buang rasa cemas, cukupkan dengan hadir diantara mereka

Putra sulung sudah mulai masuk ke jenjang Sekolah Dasar, banyak hal yang harus kami berdua persiapkan. Tak mudah menjalaninya, tetapi keyakinan akan petunjuk kebenaran tentang janji-janji الله adalah haq yang tak terbantahkan. Kami yakin seyakin-yakinnya bahwa الله pasti menghadirkan pertolongan yang lebih banyak dari ujian hidup yang kami jalani. 

I LOVE U and I MISS U All

Kamis, 07 Maret 2019

Berikan satu jeda untukku bernafas!

Berlari terengah-engah di sebuah tempat yang mengikis perlahan iman. Hari dimana aku bisa pergi ke masjid setiap minggunya, harus ku relakan lagi. Di negeri yang teramat asing dari suara adzan dan sepinya bangunan masjid dalam area seluas kota di negeri ku, memukul habis rasa kenyamanan untuk beribadah.

Setiap waktu terasa berat, apalagi ketika hari jum'at hampir diisi dengan kesibukan dunia. Apakah bekalku nanti cukup?!.

Hati ingin sekali segera menyelesaikan study di sini. Berkumpul dengan keluarga seolah menjadi prioritas utama, sedih rasanya berjauhan dengan keluarga. Disana, Istri yang kurindukan dan anak-anak yang aku sayangi tinggal.

Meskipun baru beranjak 1 minggu tinggal disini kembali. Tak juga membuatku ingin tinggal disini lebih lama lagi. Hati kecilku meronta ingin mengajakku pulang ke Tanah Air. 

Ya الله Ampunilah hamba mu ini, Jangan engkau tinggalkan jasadku di negeri ini, ijinkan aku kembali.

Selasa, 15 Januari 2019

Awal tahun 2019; Awal aku harus menjadi suami dan ayah sepenuhnya

Apakah Arti hidup?

Segenap hati sudah terbaring dan berpasrah mengikuti takdir Yang telah Engkau tetapkan يا الله . Tahun ini adalah tahun pertama aku telah melepaskan status sebagai seorang anak. Karena kedua orang tuaku telah meninggal dari dunia ini. Namun, doaku akan terus untuk keduanya.

2019 adalah tahun yang menyisakan kesedihan yang mendalam. Dengan menutup mata Ayahku, maka keluargaku kini adalah keluarga kecilku. Aku tak ingin kalah untuk berlomba menjadi suami terbaik untuk istriku dan menjadi ayah untuk kedua anak hebatku. Aku mencintai keluarga kecilku ini.

Setelah lama berpisah dari negeri yang cukup jauh. Akhirnya pulang untuk menemui di hari-hari, Winter Break Time, bersama keluarga kecilku, walau tak lama waktu tersebut. Kuharap الله mencukupkan hari-hari ini. 

Nak, Jadilah Ulama yang hebat kalahkan ulama-ulama yang dulu. Bunda jadilah wanita yang cukup kuat dan tangguh, Ayah yakin doa Bunda akan diabadikan di langit dengan tinta emas untuk anak-anak kita. Jadilah Istri yang mengindahkan ke semua hidupku yang compang-camping tak karuan. Aku yakin ke depan bersamamu lebih indah, semoga doa Bunda untuk Ayah selalu menjadi kemudahan dan semoga tak perlu Ayah harus pindah ke kota lain untuk mencari ma'isyah, semoga kita bisa selalu berkumpul nantinya sampai akhir hayat Ku, Ayah.

Bunda I LOVE U, I LOVE Mas dan Adhek.
يا الله 
Semoga Engkau selalu mengumpulkan kami dalam keadan yang baik dan dalam Rejeki yang Halal, Rahmat Engkau tanpa batasan, selalu dalam naungan dan perlindunganMu ... يا الله .
امين  امين   امين امين امين