Sabtu, 09 Agustus 2025

Post-Doctoral Pertama Kali

 Dr. Andy at Shenzhen, Guandong, China

"Kapan lagi kutulis lagi untukmu? Tulisan-tulisan indahku yang dulu, pernah warnai dunia, puisi terindahku hanya untuk mu!" Lagu ini mengingatkanku tentang Nada Nadiya dimana lembaran cerita tentang jalan sebagai seorang berpendidikan terlukis di kepalaku. Dengan semangat, selalu kau katakan untuk bangkit, sebagaimana intro lagu ini "aku yang pernah...Engkau kuatkan, aku yang pernah kau bangkitkan, aku yang pernah kau beri rasa." hingga aku terus mengingatmu Nadiya. 謝謝你.

Shenzhen, Aku injakan kaki ku disini dan menuliskan kembali di Blog ini. Mengingatmu dan membagi cerita ini untuk mu dan juga IBUKu di Surga. Ini pertama kali, aku mengambil postdoctoral program karena harus menyesuaikan kondisi kantor dan aturan yang tidak membolehkan aku untuk meninggalkan kantor sampai 1 tahun. Akhirnya ada peluang ini, Aku sekarang disini berkat doa Ibuku, kamu, Vita yang pernah singgah sebentar dalam hidupku dan tak Lepas dari dukungan penuh Istriku Komala-AKA-Bunda Ala (supporter, teman sejiwa, dan teman nanti di surga. Aammiiinn).

Hari ini, aku sendiri tidak menyangka akan sampai di negeri Tirai Bambu ini. Sejarah mencatatkan hal yang luar biasa di negara ini, negara dengan paham 'Komunis'. Faktanya sekarang menjadi negara maju, yang awalnya sempat terjadi perang antar kelompok sampai akhirnya didamaikan dengan satu partai, dimana pemenang menjaga wibawa dengan sebutan One China Policy. Dimana Taiwan, yang pernah aku singgah disana, disetarakan dengan provinsi atau bagian dari China-Mainland.

Luar biasanya kemajuan di sini, yang awalnya aku agak shock dengan internet yang tidak bisa dipakai untuk akses berbagai macam situs yang terkenal, ternyata memiliki Power yang luar biasa untuk mengatur negara yang luas, dengan penduduk lebih dari 1 milyar ini. Bahkan hal yang mencengangkan adalah para Professor yang ada di SIAT ternyata memiliki rekam jejak yang tidak biasa. Dari sisi Kualitas tidak kaleng-kaleng. Sistem Non-Koruptor benar-benar memberikan kehati-hatian dan kenyamanan tersendiri bagi rakyatnya. Berbeda dengan Negeri Konoha dimana korupsi sudah jadi bagian dari sistem global di negeri tersebut.

Apakah negara ku akan mampu menyainginya? Entahlah tidak ada yang tahu nantinya. Untuk Nadiya, Vita, dan Bunda Ala Kalian adalah pendoa untukku yang di Ijabah oleh الله SWT. Semoga kita bisa bertemu semua di surga, untuk Istriku Bunda Ala, Terima Kasih sebanyak-banyaknya, Kau adalah pasangan hidupku yang tepat di dunia ini.

Senin, 29 Juli 2024

PhD-Doctoral

 Ph.D - Doctoral, Dr. Andy

Ibu, Alhamdulillah, aku - anakmu telah tamat mencapai pendidikan paling tertinggi. Sejak kecil hal yang tak mungkin bagi orang yang Fakir - lagi - Miskin adalah menyekolahkan anak sampai tinggi. Bagiku yang sudah terbiasa hidup susah dan diolok-olok oleh tetangga sebelah yang namanya Bu Tomi, yang selalu terngiang dibenakku. Sejak kelas 3 SD aku menyadari bahwa benar perkataan Bu Tomi, bahwa Bapak orang Miskin, yang makan aja susah, apalagi menyekolahkan anak yang dia kutuk ini, pastilah hal yang sangat tidak mungkin. Sementara untuk bisa masuk SD saja aku terlambat masuk karena 4 saudara ku yang lain membutuhkan biaya untuk masuk sekolah tinggi, SMA, dan SMP. Seolah tersadar bahwa aku tak mungkin punya harapan bisa sekolah tinggi, maka dengan tekad yang ada aku mulai berusaha mengais rejeki dan berusaha tidak menjadi bebanmu.

Sakit rasanya, setiap kali mendengarkan cemoohan tetangga, yang membuat aku minder, tetapi aku  tetap berusaha menegakkan kepalaku. Tersadar dari mimpi yang tak mungkin ku raih, aku berusaha mewujudkan mimpi itu menjadi jalan cita-citaku. Berbenah diri di usia dini akhirnya kelas 3 SD aku berusaha mati-matian mengejar prestasi agar dapat beasiswa dan bisa lanjut sekolah. Dari 3 hal ini aku percaya bahwa aku bisa mewujudkanya, yaitu beasiwa jalur prestasi, surat keterangan tidak mampu dan mencari keringanan dari sekolah. Mulai dari sana, akhirnya aku yakin bahwa cita-cita itu bisa diwujudkan.

Bekal yang selalu kau tanamkan padaku, Becik ketitik ala ketara, Mesio cilik tetep wae padha, Dadi wong cilik kudu waspada lan ati-ati, Le kowe lanang Jangkamu ki dawa, Urip ngirit - ngepas no kebutuhan, Sing sabar ngadepi Urip. Banyak hal yang terngiang di kepalaku termasuk harus berani menghadapi dan menggapai kesusksesan. Demi permintaan Ibu yang mengharapkan salah satu anaknya ada yang bisa sekolah tinggi dan termasuk untuk menghapus kutukan yang di-semat-kan Bapak sepertinya ini akan menjadi jalan yang panjang.

Aku doakan Ibu selalu diterima oleh الله SWT. dan ditepatkan di surgaNYA. Maafkan anakmu ini ya Bu kalau sudah sering menyusahkan Ibu, semoga Ilmu yang anakmu ini peroleh bisa bermanfaat dan menaikkan derajat, supaya keturunan berikutnya tidak perlu mengalami kondisi Fakir dan Miskin, menjadi Kaya yang kekayaannya menjadi berkah bagi keluarga dan orang-orang lainnya. Love You الله وراسل الله, Love You Bu, Love You Bunda Ala, and Love You my son's.

Kamis, 02 Februari 2023

Nada Nadia (Bersepeda)

      Hujan mulai reda, Kau bertanya apakah aku bisa mengantarmu pulang dengan sepeda jengki ku? aku jawab iya bisa, hanya mungkin keras karena jok untuk bonceng tidak ada bantalannya. Kau menjawab tak mengapa dan bersikap lemah lembut dengan santun. Akhirnya, aku bonceng kamu dan mengantarmu pulang ke rumahmu.

       Sepeda jengki ku menjadi saksi bahwa kita pernah bersama di sepeda itu, sambil kau ajak bercanda dalam perjalanan itu. 

Nada Nadia (Intro)

      Nada, telah berlalu puluhan tahun dari masa kita bertemu waktu SMP. SMP salah satu sekolah terfavorit di kota kita tinggal. Hanya aku berjuang untuk masuk kesana, walaupun ternyata masih banyak kekurangan yang tidak aku ketahui untuk menjadi salah satu pelajar disana. Kekurangan sebab kemiskinan menyebabkan sekolah disana menjadi sangat mahal, bahkan untuk bertahan disana aku harus berjualan dan berdagang asongan untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Sampai waktu aku pernah tidak makan hanya untuk mengumpulkan uang untuk membayar LKS salah satu pelajaran di Sekolah.

       SMP Pawyatan Daha adalah sekolah mu, dekat dengan latar alun-alun kota kita tinggal. Saat itu kau sedang ada di depan Gerbang sekolah sendirian tampak letih menunggu jemputan yang belum datang. Kala itu hujan rintik, aku memutuskan tetap pulang dari sekolahku, sepeda jengki hitamku aku kayuh sekalipun berat karena melawan arus angin. Kuanggap hujan rintik adalah sahabatku sebagai kemudahan untuk melewati jalan raya, yang biasa penuh kendaraan bisa lumayan sepi ditinggal para pengendara kendaraan bermotor. Aku putuskan untuk berbelok ke arah alun-alun menuju ke arah sekolahmu. Tepat berbelok hujan disertai angin kencang dan cenderung bertambah intensitas turunnya hujan memaksaku berteduh. Kuputuskan menepikan sepeda jengkiku tepat depan gerbang sekolahmu karena ada atap depan gerbang sekolahmu, sayang aku tak berani masuk. Sambil menyandarkan tubuhku ke tepi tiang gerbang, tak kusadari ada salah satu murid disana dan itu kamu.

      Cukup lama kau memperhatikan ku dan melihat topi sekolahku dengan tulisan SMPN 1 kota kita bertemu. Lalu dari sebrang tepi tiang gerbang lainnya kau menyapaku, "Hi, apakah kau murid SMPN 1?" kata salam perkenalan yang terdengar indah dan lembut. Tak pelak suara itu mengejutkanku, "Oh iya" Jawabku. Senyummu membangkitkan kesadaranku untuk memperkenalkan diriku dan siapa aku kepada wanita yang keturunan tionghoa. Tampak bersih dan putih kulitmu terawat.

 

Kamis, 22 Desember 2022

Satu Sisi Satu Malam

 "Bruukkk" suara benda jatuh disampingku tampak berisi barang yang berat. "Maaf mbak, apakah boleh saya bantu?" kataku menawarkan bantuan. "Boleh...boleh!" katanya, "Lumayan berat mbak, mau kemana?" tanyaku, "Keseberang mas"Jawabnya.  Seolah malam menutup jauh usiaku dengan wanita muda ini. "Apakah baru sampai mbak?" lanjut tanyaku sambil membawa koper miliknya, sambil mengangkatnya menyebrangi jalan. Sambil memegang telpon genggam miliknya dan membalas pesan yang masuk dia berkata "iya". 

"Yups, sudah sampai mbak!" kataku, "eh mas boleh minta tolong sampai apartemen saya disana" tanyanya pada ku. "Boleh mbak, tapi apa boleh saya masuk ke Apartemennya mbak?" tanyaku. "Nanti sampai lobi bawah ada teman saya, tolong temani dulu ya mas!" Pintanya padaku. Belum sampai ke Lobi kami berhenti karena tidak tahu lobi yang mana yang kami harus menunggu. Lalu, sambil menunggu balasan pesan dari temannya, aku bertanya "Datang ke ibukota, memang asalnya darimana mbak, dan keperluan kerja atau berkunjung saja", tanya ku, tanpa ragu dia pun menjawab dengan singkat "Kerja Mas, dari Tasik kuningan", 

"Wah lumayan jauh ya?! Apa tidak ada laki-laki yang mengantar?" sahutku. "Tidak ada, memang kenapa mas, biasanya saya juga sendirian" jawabnya. "Hebat mbak, sampai malam begini, memang kerja dimana mbak, kalau boleh tahu?" tanyaku. "Disini mas, sama teman saya" [w],"Hmm...ikut temannya ya, semacam bagi hasil ya?!"[a]. "Hayyu mas, kesana, yang warna merah, lobi bawah sudah ada teman saya nuggu"[w], "baik mbak"[a]. 

Akhirnya kami sampai di lobi tersebut dan bertemu dengan temannya. "Ri" panggil wanita itu [w2]  ke wanita yang kubantu[w]. "Wah...wah...sudah bawa pelanggan ri"[w2], dak-dak-dak kaget aku mendengarnya, "maaf maksudnya apa ya?!", aku syok mendengar suara sambutan tadi. "Loh emang mas ini siapa?"[w2], "mas ini tadi cuma bantu ta"[w], "ooww... ku pikir pelanggan kecanthol, ha ha ha"[w2]."Mas, terima kasih ya, mau mampir dulu atau langsung pulang?"[w] "Langsung pulang saja mbak" aku langsung balik badan dan pergi dari lobi tersebut. "Mas besok saya tunggu ya disini, kalau mau ngobrol"[w2]. Dalam hati "Gila", aku putar badan, segera jalan cepat meninggalkan dari tempat tersebut tanpa membalas pertanyaannya.

Senin, 23 Mei 2022

L-A-R-I

 LARI

        Asa berpedar dalam hatiku. Entah sudah berapa lama ini terjadi. Segala keluguan kecilku terluka karena salah😠 - yang membawa kutukan seumur hidupku. Sebuah ejekan yang tak pernah berhenti bahkan diviralkan sampai dikalangan teman-temanku. Sakit - tapi tak bisa kuhindari dan tak pernah bisa ku rubah.

        Aku LARI sejadi- jadinya. Namun sakitku tak jua hilang. Musim berganti kutukan itu masih terasa karena dendam😠 - yang membawa pikiranku selalu beranggapan tidak ada tempat untuk ku berlari. Sungguh aku bingung IBU. Bagaimana seharusnya aku, apakah benar masa lalu itu harus aku kubur tanpa harus berbalik memandangnya sedikitpun.

       Alang - alang melambai  terinjak. Bekasnya injakannya melekat dan menempel kuat. Sedangkan penginjak bebas😠 - menghina, mengolok, mengejek tanpa rasa bersalah sedikitpun dan tak pernah ada perasaan bersalah. Mereka tak sekedar teman tapi saudara Sedarah. Larut dan suka akan berdusta tapi merasa paling benar adanya. Entah sampai kapan?

        Benci akan ingatan, menusuk dan membuat  teriakkan kencang. Dalam hati sakit itu tak terbiasa ku jadikan biasa😢 - berharap aku bisa memaafkan diriku dan masa lalu ku. Kemarin ada kawan yang memanggilku dengan nama kutukan itu, dia meminta ijin untuk memasukkan aku sebagai anggota grup kawan lama. Sungguh aku menolaknya karena mereka bagian dari Kutukan masa lalu. Aku hanya manusia biasa, dan tak ingin hidup dalam kutukan itu.

        Bebas menapak dunia  baru. Harapan itu selalu aku tumbuhkan, walau menyesakkan dada, terkadang masih terasa sakit dan kecewa😊 - tapi aku berusaha tersenyum untuk kekasihku dan buah hatiku. Pilu kupendam dan kutuliskan saja. Meski ini bukan obatnya, semoga aku tetap ikhlas menjalaninya dengan Damai - Diam Ku.

Kamis, 05 Mei 2022

Men-Jeda Namamu, Dara -- Annisa.

 Dara Annisa (2)

Lima tahun berlalu dari waktu meninggalnya suamimu. Apakah kau tahu aku mencari kesempatan untuk bertemu denganmu?

Hidup terasa janggal, waktu bergulir menakutkanku, aku masih saja kalah dengan sosok yang sudah pergi, Apa kau melihat dan mendengar tangis kehilangan dari mu?

Kau membuat ku terjatuh dan terjatuh lagi, Kau membuat ku terjatuh dan terjatuh lagi, kau buat ku merasakan yang tak terjadi, semua yang terbaik dan yang terlewati, semua yang terhenti tanpa ku akhiri.

Kau hancurkan hati ku - kau terangi hatiku kau redupkan lagi.

Aku bermimpi sekali lagi di bulan Ramadhan setelahnya, aku melihat sosok mu yang sedang menangis, tapi kau tak memanggilku, justru memalingkan muka mu menjauh dariku. Sakit rasanya kau pergi sekali lagi.

Dara, bulan Ramadhan ke-3 kali ini aku tak ingin bermimpi tentang mu tapi entah kenapa masih saja sempat bermimpi tentangmu. Hanya kali ini, begitu jelas apa yang kau kerjakan.

Kau meminta ku untuk menjagamu, tapi kau khianati dengan tusukan pisau yang menembus ke ulu hatiku sehingga aku terjatuh dan mati di tanganmu. Kuharap ini adalah mimpi terakhir ku tentang mu Dara.

Sungguh aku tak sanggup lagi walau sekedar mimpi Dara! Pergilah Dara Annisa..... Temukan apa yang kau cari tanpa mengusik hidupku lagi. Karena kau hancurkan Hatiku Untuk Melihatmu.